makna
2. CERIA, adalah sikap yang riang, senang, suka-cita, mewakili KECERDASAN EMOSI (EQ).
3. BERAKHLAK, adalah orang yang berbudi pekerti luhur, mengerti nilai hidup dan moral atau sebutan lain untuk orang yang berkarakter atau KECERDASAN SPIRITUAL (ESQ).
Menurut Prof. Dr. Daniel Golleman dari Amerika, Bpk Management modern, mengatakan bahwa keberhasilan dipengaruhi oleh 20% IQ/II (Intellectual Quotient/Intellectual Intelligence) dan 80% EQ/EI (Emotional Quotient/Emotional Intelligence) serta SQ/SI (Spiritual Quotient/Spiritual Intelligence).
Kebanyakan orang yang berhasil membangun usaha bukanlah para juara di sekolah, tetapi yang temannya banyak yang sewaktu sekolah/kuliah banyak berorganisasi, pandai bergaul dn ketika dia membangun usaha mampu membangun jaringan distribusi, jaringan pemasaran karena kepandaiannya bergaul atau bersosialisasi.
Bukan orang yang jenius atau pandai otaknya yang mampu memimpin/membangun usaha, tetapi yang mampu berbicara, pandai melobi, pandai bergaul dan bersosiaisasi.
Orang yang berhasil membangun keluarga bahagia bukanlah mereka yang jenius. Sering ketika suami dan istri semuanya cerdas hanya secara otak saja, akan banyak bertengkar dan berdebat dan tidak bahagia. Butuh kecerdasan emosi dan kebaikan, kareakter dan nilai hidup yang merupakan bagian dari Spiritual Intelligence untuk berhasil dalam pernikahan.
Maka ; Jika konsentrasi kita sebagai pendidik dan orang tua adalah supaya anak-anak kita berhasil kelak, maka sepatutunyalah kita memberikan porsi dan perhatian pada EQ dan SQ yang mempengaruhi 80% keberhasilan mereka.
KECERDASAN MAJEMUK/MULTIPLE INTELLEGENCE
1. Linguistic Intelligence / Kecerdasan Berbahasa
a. Berani Bicara
• Mereka yang berhasil dalam kehidupan ini, adalah mereka yang “berani” berbicara. Apa artinya seseorang pandai jika mereka tidak berani bicara, maka siapa yang akan tahu kalau dia pandai?
• Jika anakmu dengan bangga menunjukkan kebolehannya berbahasa Inggris dan mengucapkannya dengan spelling yang salah, biarkan saja. Jangan sedikit-sedikit disalahkan, nanti dia akan malas, malu dan tidak berani berbicara.
• Terapi anakmu untuk berani berbicara, dengan cara meminta mereka bercerita apa yang dialami hari itu, mengemukakan pendapat pribadinya yang mungkin berbeda dengan orang tua. Sekolah bisa membuat cara belajar dimana murid-murid justru yang mempresentasikan materi kepada teman-temannya dan guru membahasasnya.
b. Senang Bicara
• Apa artinya punya banyak ilmu tetapi tidak senang berbicara. Siapa yang akan tahu kalau dia pandai, dan apakah kepandaiannya berguna bagi orang lain?
• Anak bisa dilatih senang berbicara, jika kita para orang tua bisa menjadi ‘teman bicara yang baik’ bagi mereka.
c. Teman Bicara yang baik
Menjadi teman bicara yang baik, bisa diraih dengan :
a. Belajar menjadi pendengar yang baik
b. Memberi komentar positif
c. Jika harus memberi saran atau kritik, tetap memulai dengan mendengar (langkah 1), komentar positif terlebih dahulu (langkah 2) dan barulah saran atau kritik
d. Beri prioritas dengan tidak berbicara dan sambil asyik menulis SMS atau membaca lainnya
• Jangan buru-buru marah, jangan buru-buru memotong pembicaraan anak. Hargai ketika anak berbicara dengan mendengar dan memperhatikannya, maka itu juga yang akan menjadi polanya dalam berbahasa.
d. Bicara komunikatif
• Banyak masalah di dunia ini muncul, karena masalah komunikasi, salah komunikasi dan tidak adanya komunikasi yang baik atau bahkan tidak ada atau tidak mau berkomunikasi.
• Berbicaralah dengan memandang mata dari lawan bicara anda. Kalau anda berbicara tapi mata anda tertunduk ini mengisyaratkan bahwa anda minder.
o Latih anak-anak berani tampil di depan dalam acara-acara di sekolah, di greja, mesjid atau di Mall.
e. Senang membaca
• Didik anak suka membaca dan membaca hal-hal yang perlu atau paling tidak informasi atau ilmu pengetahuan yang sesuai dengan usianya.
• Manusia akan menjadi apa sesuai yang diisikan ke otaknya. Atau tidak menjadi apa-apa karena otaknya tida ada isinya apa-apa. Itulah perlunya senang membaca.
f. Menulis Cepat
• Disarankan untuk pendidikan di sekolah atau orang tua melatih anaknya, bukan lagi menulis halus yang ditekankan, tetapi menulis cepat, anak-anak dilatih DI DEKTE dan mereka harus menulis cepat, cepat dan lebih cepat lagi.
g. Senang menulis
• Kesenangan menulis seorang anak bisa dilatih, dengan demikian kelak ia bisa menjadi seseorang yang lebih berarti dan berguna dalam hidupnya dan menjadi lebih berhasil.
2. Mathematical Intelligence
a. Numerical Intelligence
• Kemampuan seseorang dalam olah angka ; menambah, menjumlah, membagi, perkalian hingga ke olah angka yang lebih kompleks seperti aritmatika, logaritma, kalkulus, aljabar.
o Kurikulum dan ilmu yang ada saat ini sudah cukup memadai untuk bisa berhasil dalam hidup sehari-hari, bahkan pelajaran yang kita dapat waktu sekolah mungkin tidak semuanya kita pakai dalam bekerja.
b. Logical Intelligence
• Kemampuan seseorang untuk berpikir ‘sebab …. akibat’, ‘jika …. maka……’.
• Orang dengan kecerdasan dibidang ini cenderung mau hal yang praktis dan logis, susah percaya dengan mimpi, nujum atau nubuatan, hal-hal yang gaib. Logika sangat diperlukan dalam hidup ini untuk bekerja dengan benar.
c. Analitical Intelligence
• Kemampuan seseorang untuk menganilisa sebuah permasalahan, mengurai sebab akibat dengan mempertimbangkan segala aspeknya, situasi yang ada dengan menggunakan segala data bahkan memperkirakan apa yang akan terjadi ke depan.
o Contoh kemampuan analisa yang paling mudah adalah jika seseorang pandai bermain catur, maka dia memiliki kecerdasan analisa yang tinggi, dan catur bisa meningkatkan kemampuan analisa seseorang.
3. Visual / Spacial Intelligence
a. Menggambar, warna dan komposisi
b. Design dan Grafis
c. Kreatifitas
4. Musical Intelligence
Adalah kemampuan seseorang dalam memahami ‘suara’ dalam hal irama, birama, tangga nada, atau kemampuan seseorang dalam bidang musik.
• Jika sejak dini anak diterapi musik, maka sebenarnya bakat musik bisa muncul di semua anak, bahkan sekalipun yang secara genetik baik orang tua, kakek nenek tidak ada yang menyukai musik. Karena jika seseorang manusia belajar sesuatu yang baru (misal musik) dengan senang hati, maka jaringan yang baru di dalam otak, sambungan antar ‘neuron’ bisa ‘tersambung’ sebuah jaringan yang berfungsi mengenai bidang musik terbentuk. Konsep ini membuat sebuah revolusi baru dalam pendidikan, bahwa bakat tidak hanya ditemukan dan dikembangkan, tetapi BISA DICIPTAKAN.
• Janin dalam kandungan sudah memiliki perasaan kesadaran dan daya ingat. Dan yang tak kalah pentingnya rangsangan suara misalnya musik yang diperdengarkan kepada janin secara teratur dan terus menerus ternyata mampu memacu kecerdasannya.
5. Kinesthetic Intelligence
Adalah kemampuan seseorang untuk menggerakkan tubuhnya secara tepat. Ada saat harus lembut, pelan ada saat keras dan cepat. Menggerakkan tubuh sesuai yang diinginkan.
• Bangsa (dan juga pribadi) yang maju, yang akan menang dalam persaingan global adalah bangsa yang CEKATAN. Mengerakkan tubuh secara tepat atau memiliki kinesthetic intelligence yang tingggi.
6. Natural Intelligence
Adalah kemampuan seseorang untuk berhubungan dan menyesuaikan dengan alam. Pada zaman sekarang ini diperlukan agar manusia peduli dan menjaga lingkungan, agar seluruh bumi bisa ‘survive’. Pada anak-anak bisa dikembangkan dengan memelihara binatang, diajak menanam dan memelihara tanaman, taur ke kebun binatang, dll.
7. Emotional Intelligence
Adalah kemampuan seseorang untuk menguasai emosinya, berkomunikasi dengan diri sendiri serta berkomunikasi dengan orang lain dan lingkungan.
a. Intra Personal Intelligence
Adalah kemampuan seseorang berkomuniksi dan memandang diri sendiri (self image) serta kemampuan seseorang mengendalikan dirinya (self control).
1. Self Control
o Siapakah mereka yang berhasil? Kita akan menjumpai bukan mereka yang pandai secara akademik, tetapi yang mampu mengusai emosinya (self control) dengan baik.
2. Self Image atau Citra Diri
Apa penilaian saya terhadap diri saya sendiri. Hal ini sangatlah penting bagi diri kita sendiri. Bagaimana saya menilai diri saya sendiri sangatlah menentukan banyak hal dalam hidup ini.
• Batas Tertinggi
Prestasi saya yang paling tinggi yang bisa dicapai ditentukan oleh citra diri saya.
• Bagaimana seseorang membawakan diri
Citra diri sangat mempengaruhi bagaimana saya membawakan diri saya.
Dalam menegur anak atau pun menyatakan kesalahan orang, kita perlu berhati-hati. Prinsip yang benar yaitu : Nyatakan kesalahan orang, tetapi jangan memberi label yang buruk kepada orang tersebut. Dengan perkataan lain : Bencilah perbuatannya yang tidak benar, tetapi kasihilah orangnya.
• Bagaimana berhubungan dengan orang lain
Citra diri menentukan bagaimana saya berhubungan dengan orang lain.
Cara saya memandang orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlakukan orang lain, sangatlah dipengaruhi oleh citra diri saya. Kalau saya mempunyai pikiran positif terhadap diri sendiri, maka saya akan bisa berpikir positif terhadap orang lain.
b. Inter Personal Intelligence
Adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain atau kemampuan seseorang untuk bersosialisasi.
1. Sosialisasi
Anak yang pandai bersosialisasi, dialah yang akan berhasil dikemudian hari.
2. Empati dan simpati
Untuk mengembangkan ‘inter personal intelligence’ yang terdiri dari kemampuan ‘sosialisasi’ yang dibangun oleh ‘empati’ dan ‘simpati’, maka anak-anak harus lebih banyak bermain, dan bermain dengan TEMAN, bukan dengan barang, bukan computer, bukan nonton TV dan main play station, yang belakangan ini menyita ribuan jam waktu anak-anak.
8. Spiritual Intelligence
Adalah kemampuan seseorang untuk mengambil sebuah hikmah dari sebuah kejadian. Atau kemampuan seseorang untuk belajar hal yang positif atas sebuah peristiwa negatif. Atau kemampuan seseorang untuk mengerti ‘kehendak Allah’ dari sebuah peristiwa yang terjadi.
Ada banyak orang yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bersyukur, dan baru mengerti kehendak Allah, sementara ada orang yang begitu cepat bisa menangkap sebuah hikmah? Apa yang mempengaruhi hal ini?
a. Integritas
Adalah orang yang sama antara perkataan dan perbuatan. Orang yang berintegritas tinggi berkomitmen untuk melakukan apa yang dikatakan, apa yang dijanjikan.
Orang yang berhasil dalam bisnis bukan orang yang sekolah bisnis dan lulus dengan nilai tertinggi, tetapi mereka yang memilik integritas. Orang yang berhasil menikah dan bahagia bukanlah ahli psikologi/kejiwaan tetapi mereka yang memilik integritas. Orang yang berhasil mendidik anaknya bukanlah sarjana pendidikan yang tahu ilmu mendidik anak tetapi adalah mereka yang memiliki integritas. Apapun pengertian dan bidang keberhasilan itu, factor penentu utamanya sama, yaitu KECERDASAN EMOSI dan KECERDASAN SPRIRITUAL dan bagian dari hal ini adalah INTEGRITAS.
b. Karakter
1. Jujur
Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak luput dari hukuman.
Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan ALLAH dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.
2. Tabah dan Ulet
Keberhasilan diraih setelah melalui beberapa ‘kejadian gagal’ dan dengan mengalami beberapa ‘kejadian gagal’, maka seseorang belajar dari kehidupan real yang sering tidak ada dalam pelajaran sekolah. Tanpa ‘keuletan’, ketabahan hampir-hampir mustahil untuk sebuah keberhasilan.
3. Tidak takut gagal
Kalau seseorang mengalami ‘kegagalan’, bukan berarti dia adalah orang yang ‘gagal’. Itu adalah ‘peristiwa gagal’. Kalau dia mengalami ‘beberapa kali kegagalan’ itupun bukan berarti dia orang yang ‘selalu gagal’, katakan saja ‘saya belum berhasil’, bukan saya ini orang yang selalu gagal.
4. Baik hati dan murah hati (menciptakan nilai)
Segala kegiatan yang dilakukan jika bukan atas dasar ‘kebaikan hati’ ada saatnya orang tersebut akan mengalami ‘kelelahan berbuat baik’. Perbuatan baik untuk membangun image bukanlah sebuah ‘kebaikan’ tetapi sebuah keegoisan. Kebaikan yang sesungguhya memerlukan ‘ketulusan motivasi’ dan itu benar-benar yang keluar dari ‘hati yang baik’.
5. Ceria, smile dan humor
Orang yang tampil ceria biasanya antusias membawa dan mewarnai suasana disekitarnya, disukai banyak orang dan tentunya menunjang keberhasilan yang lebih.
6. Optimis
Adalah orang yang selalu ada pengharapan dalam berbagai situasi dan kondisi. Pengharapan ikut andil dalam memberi kekuatan atau ketabahan, bahwa suatu saat pengharapannya terwujud. Pengharapan membuat seseorang berbuat untuk mencapai pengarapannya menjadai kenyataan.
c. Nilai Hidup
Bagaimana kita memandang tentang nilai hidup? Tentang uang, kemewahan, kesederhanaan, nilai hidup tentang penampilan/gaya yang akan mempengaruhi penggunaan keuangan dan bahkan keberhasilan.
KONSEP/NILAI HIDUP TENTANG KEKAYAAN/KELIMPAHAN
Satu gelas akan melimpah jika diisi seember air, sebaliknya satu buah ember tidak akan melimpah jika diisi dengan satu gelas air. Jadi apa itu kelimpahan?
Konsep tentang MELIMPAH : Melimpah bukan karena banyak, melimpah karena kita bisa mencukupkan dengan yang ada. Melimpah karena kita hidup sesuai dengan ukuran kita saat itu, kalau penghasilan kita segelas, maka kita hidup dalam pola gelas dan bukan ember.
Bagian terberat untuk mencukupkan dengan yang ada adalah hati kita, ego kita, perasaan kita, kita malu jika dinilai miskin atau dinilai tidak diberkati, kita malu mamakai pakaian yang murah atau makan di warteg. Mengapa harus malu? Apakah tidak lebih malu jika hidup selalu meminta-minta atau pinjam sana dan pinjam sini. Atau lebih malu lagi jika ‘petentang-petenteng’ namun semua kridit dan ‘credit card’ menumpuk tagihannya.
Jika kita hidup dengan pola melimpah, maka kita akan bahagia, dimanapun level ukuran ekonomi kita saat itu. Kita tidak bahagia dan melimpah menunggu setelah kita kaya, namun kita senantiasa melimpah dan mengucap syukur merasa cukup karena sebuah pola hidup, sebuah prinsip hidup dan bukan karena jumlah kekayaan yang dimiliki. Dengan nilai hidup seperti ini kita akan menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Integritas, karakter dan nilai hidup yang membangun ‘Spiritual Intelligence” atau ‘kecerdasan rohani’, maka sesuai namanya yang sangat mempengaruhi tentunya adalah ajaran-ajaran AGAMA, karena itu sangat perlu sejak usia dini, anak-anak sudah diajak, diberi contoh oleh orang tua dengan beribadah dan terlebih ‘keteladanan’ dalan hidup sehari-hari serta LINGKUNGAN KELUARGA, karena keluarga itulah lingkungan terdekat anak.
SEKIAN, TERIMA KASIH
